Jumat, 25 Juni 2010

Ajari Aku Sholat....!

Selama ini, sebagai muslim tidak pernah terukir dalam benak dan pikiranku tentang sebuah makna sholat hingga titik inti dari sholat itu sendiri. senada dengan kata para ulama bahwa sholat merupakan sebuah ritual atau ibadah yang dilakukan yang dimulai dari takbir hingga salam. pemaknaan rukun-rukun yang ada, yang melahirkan sebuah konsekuensi sebagaimana firman Alloh SWT, Pencegahan dari perbuatan keji dan munkar. ataukah tidak perlu pemaknaan sama sekali tentang segala hal aplikasi sholat itu. lantas dari sisi manakah sholat itu mampu berkonsekuensi sebagai tujuan preventif terhadap keji dan munkar?.
Telah lama ibadah sholat itu dilakukan dan disyari'atkan namun semua itu tidak teraplikasi hingga titik konsekuensinya. Pernah ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa tata laku dan perilaku dalam sholat itu memaknai sisi kehidupan yang manusia jalani. Sebagaimana tegaknya posisi dalam sholat merupakan sebuah tegaknya pendirian seseorang hingga tingkat sikap tawadlu dan tadarru' yang mewakili ruku dan sujud dalam sholat. Atau pemaknaan individualis dan sosialis dalam pelaksanaan munfarid dan berjama'ah.
Sedikit banyaknya hal itu ternyata ada dalam sebuah deskripsi tatanan norma susila kehidupan manusia. meski terkadang kita terjatuh dalam sebuah "keadaan terpuruk" (udzur) sehingga kita harus melaksanakan sholat dengan cara duduk.
Kemudian sebelum melaksanakan sholat diharuskan membersihkan dan mensucikan diri dari berbagai hal yang akan mengganggu kelancaran sholat sehingga sholat menjadi khusyu hingga salam. kekuatan dan kehampaan memegang sebuah hasrat yang terukir dihati atau sebuah keinginan untuk sekedar mengisi perut terukir dalam kias sikap tangan dalam posisi berdiri. Atau hanya sebuah sikap penjagaan hal yang terpenting dalam kehidupan.
meski terkadang aku lupa dan aku harus melakukan hal yang terlupakan dan melakukan sebuah ketundukan manusia kepada Alloh swt yang Maha Ilmu, sebagai Kesyahwian manusia dalam suatu waktu.
berbagai kodifikasi kias ibadah dalam norma kehidupan terkadang terselip meski tidak banyak hal itu terpikirkan olehku. Entah mungkin juga perilakuku pun tidak jauh berbeda dengan sholat yang aku lakukan selama ini.
itu mungkin sebuah interperetasi yang terbersit dalam pikirku. mungkin benarnya tidaknya belum tentu dan belum pernah aku tahu dalam pengetahuanku. Maka aku pun belajar melalui pemaknaan sholat sebagai sebuah titik fondasi agama yang pertama setelah pernyataan syahadatain yang selalu terucap setiap kali dalam sholat dan keyakinan terhadap Sang Penilai agama Islam sebagai Agama yang terpilih disisi-Nya.
Maka dari itu, aku terus belajar sholat dengan melakukannya setiap hari sebagaimana waktu yang telah ditentukan dan sebagai sebuah ketundukan serta kepasrahan terhadap tiang-tiang agama islam sekaligus manifestasi pernyataan dan persaksianku yang tidak perlu aku ucapkan secara formal,meski belum semua aku lakukan yaitu rukun bagi orang yang dianggap mampu membekali dirinya di perjalanan. Semoga melalui pembelajaran sholat ini mampu mencapai tujuannya dengan sendirinya. Amin...

Kamis, 10 Juni 2010

Momentum Sebuah Falsafah Ibadah

ketika sebuah agama digirng kepada sebuah segi hubungan antara makhluk dengan pencipta, maka hal itu akan mengalir pada sebuah ibadah secara horizontal. maka tidaklah heran ketika sesuatu simbol digulirkan sebagai titik fokus atas pusat untuk peribadatan.seperti arah ibadah sholat yang mengarah ke arah ka'bah atau kiblat adalah sebuah titik simbol pertam sejak Nabi adam, karena dulunya merupakan titik utama peribatan yang dilakukan nabi adam, maka pada zaman nabi ibrahim titik tersebut dibentuk dan diperbaiki sedimikian rupa adanya sekarang. Dulunya ka'bah merupakan sebuah tembok yang berbentuk seperti bangunan yang belum tuntas.
Ada kata ka'bah dan kiblat, yang memiliki arti dan makna berbeda hingga pada titik realisiasi yang berbeda pula. ka'bah berbarti simbol lahiriyah dan kiblat adalah simbol bathiniyah. maka dari itu, dikarenakan sholat merupakan ibadah yang dilaksanakan secara lahir dan bathin maka tidak heran pada kenyataannya secara lahir yang sholat menghadap ka'bah dan kiblat menghadap kepada sang pencipta (kepasrahan kepada sang pencipta alam Alloh swt). tidak sedikit dan tidak heran ketika kedua kata tersebut dipertanyakan oleh ummat islam sendiri. maka tidak ada salahnya ketika hal itu didiskusikan atau dijelaskan secara gamblang agar tidak terjadi kebingungan.
ketika sebuah agama melihat kepada dua sisi yang inti, yaitu lahir dan bathin, maka hal itulah yang menjadi sebuah titik pembinaan dan bimbingan dalam semua agama. sehingga masing-masing agama memiliki format dan formulasi yang berbeda dalam mengusung dan mengantarkan ummat manusia.
Maka falsafah ibadah dari semua agama adalah pembinaan dan pembimbingan manusia kedua arah kebaikan didunia dan diakhirat, atau ketenangan dan ketentaraman lahir dan bathin. maka semua peribatan hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan.