Minggu, 27 Oktober 2013

KEKASIH YANG ABADI

Semenjak kutemukan Dia di beberapa sudut terkecil. Indah nan tenang tersemat di dalam dada. subjektif memang, kurasakan damai diantara kebahagiaan dan kesedihan ataupun keterpurukan. Selaksa do'aku terurai dibalik kepatuhanku kepada-Mu. Titik kehidupan yang Engkau miliki kurasakan tiada dua, istimewanya hikmah dibalik lapad asma-Mu. 
Selangkah kuulurkan langkah ini, sebesar itupun kemampuanku. Kebesaran kuasa-Mu tak mampu kutelusuri. Luasnya Alam Semesta ciptaan-MU sungguh Besar Kuasa-MU. Bintang-bintang yang bercahaya binal berkelip tiada henti hingga menjelang pagi. Bulan purnama bercahaya riang seolah senyum kekasih pujaan dikejauhan. 
Tanpa ku tau kapan pernah kunyatakan cinta dan kasih sayang serta janjiku akan selalu setia kepada-Mu. Engkau telah sayang sejak dulu dalam al-Qur'an-MU. Kupandang nama-Mu dibalik kerinduan untuk bersujud dihadapan-Mu. Hanya 5 kali kusematkan disela-sela akhir pembuktian kesetiaanku.
Namun apalah yang harus kupersembahkan diantara beribu nikmat yang Engkau berikan kepadaku. Aku belum mampu untuk mengorbankan seperti yang engkau harapkan menjadi insan harapan sesuai firman-Mu "Inna akramakum 'Indallohi atqakum". Secuil ketundukan dengan harapan kudapatkan manis cinta dari-Mu, seiring itu pula pupus karna kekhilapanku. Astagfirullah Al-Adim......!
Lestarinya tanaman dzikir lisanku, kusiram dengan rangkaian Ungkapan-ungkapan-Mu yang indah, tertata rapi tiada banding tiada tanding di Taman Al-Qur'an. Pesona metafora dan sastra lainnya berkerudung aneka tafsir, berjubah tahta indah tiada tara. Beribu kata sejuta makna asa manusia tersimpan.
Bermula dari Basmalah menghiasi sekapur sirih al-Fatihah, mengalir mewakili seluruh isi firman-firman-Mu. Asma-Mu  mengawali rangkaian basmalah, Alloh Swt sebagai Asma-Mu. Rahman sebagai sifat yang mengalir tanpa pandang bulu disegenap semesta ini. Kerahiman-Mu menjelang disaat tertentu dan hanya kepada Ummat utusan-utusan-Mu Engkau berikan Kasih sayang-Mu.
Sebuah Sistematika yang terkubur dibalik keindahan Firman-Mu, menyeluruh terangkai  melalui khalifah-khalifah pengganti Utusan-Mu yang tak lepas dari skenario-Mu. Esensi Fatihah bernada lirih mengantar suwar-suwar yang panjang dan ditali simpul dengan suwar-suwar pendek-Mu. Beberapa Kata kunci untuk menggali al-Qur'an-Mu, tertera dibalik prosedur penyusunan Kitab-Mu. Hanya satu yang kudapatkan dan Engkau Anugerahkan "Rangkaian dan Tatanan Yang Indah dibalik berbagai Penyusunan karya Ilmiah".
Bertambahlah Rasa Cinta dan Sayangku Pada-Mu setiap kubaca Surat-surat-Mu.  Kubaca dan Kunikmati kata-kata Indah-Mu penenang jiwaku. Rayuan-rayuan-Mu membuat spiritku semakin yakin akan kasih sayang-Mu terhadap semua Makhluk-Mu. Kucium selalu diakhir pembacaanku. Rindu dan rindu...kuingin selalu  terus membaca surat-surat-Mu.
Akhirnya Kupuji keabsahan Firman-Mu Yang Maha Agung dan Kurindukan Buaian Kasih Sayang-Mu di Dunia dan Akhirat-Mu. Engkau Kasih Abadi Tiada Henti Tiada Dua Tiada Lagi Kecuali Engkau Ya.....Alloh. Kupersembahkan segalanya Demi Engkau dalam setiap jejak langkahku, mudah-mudahkan Engkau Balas semua kebaikanku dan Kau hapus dan kau Maafkan segala kesalahanku. Amin ya Rabbalalamin.

Wafazdi'13
Moch.(Wawa) Farid Wazdi Sanjari At-Taziky

Sabtu, 24 Agustus 2013

SATU TITIK KEBESARAN ALLOH SANG PENCIPTA

Dari terkecil hingga terbesar, berputar mengitari Keesan sang pencipta. Tak kutemukan "Penampakan" sang Pencipta (Maha Benar Engkau Ya Alloh).Selintas terbayang dan terpikir dalam benak dan hati nurani, tentang keinginan orang-orang untuk mencari dan menemukan Sang Pencipta Alam, hingga sebagian terpuruk dalam kenistaan sang Durjana. Tetapi Aku Yakin dengan segala Kekuasaan dan Eksistensinya. 
Pertanyaan bentuk, tempat dan ruang-Nya bergerak perlahan memberi jalan menuju Eksistensi-Nya Yang Maha Ghaib. Pertemuan dengan-Nya Hanyalah Nanti diakhirat kelak. Ketaatan dan kepatuhan terhadap-Nya dalam Muntaha ketaqwaan menjadi sarana pertemuan dengan-Nya penuh bahagia. 
Dari pesisir laut yang bermateri dzahir hingga air laut dan rasanya, tak satupun hinggap kepri-adaan sang Maha Esa. hanya satu kekuataan dari titik-titik muntaha tertentu yang bersifat Ghaib. Bertafakur dari sudut Eksternal insan berwujud sifat-sifat dan wajah-wajah yang berbeda-beda. Sudut internallah yang belum kucoba.
Beranjak dari sisi inti manusia, akal dan hati. Hati bergumam mencari sebuah pijakan dan keyakinan yang terus menerus ku pupuk dengan dzikir-dzikir. Semakin besar kekuatan yang jiwa bermanifestasi dalam raga. kusematkan Nama-Nya, Tak ada dua sang pengais segala yang ada di alam semesta. Hati yang memberi kekuatan lain bertalu keinginan merayu. Sejenak alam pikir berjalan dengan asumsi-asumsi yang tak logis hingga akhir "ungkapan-ungkapan"nya. cukuplah sudah perjalanan hati nuraniku beranjak naik menuju alam pikir. 
Alam pikir beserta sisi materilnya, gelap saat ku pejam, berangsur satu titik pikir menuju kekhusuan terhadap sang Ilahi, Nama-Nya ku pikirkan dan Kubayangkan. Meski sesekali gumaman lain berkilah: "Tuhankah Dia?" (bentuk Tuhankah itu). "Bukan, itu hanya Nama-Nya".jawabku. ku cari sebuah titik awal dari padanya.Ternyata Nampaklah sesosok insan biasa. Maha Suci Alloh dari segala kerendahan. ku anggap biasa saja, tanpa sedikit pun kebingungan ku biarkan berjalan seperti adanya. oh...itu bukan Tuhan, itu hanya manusia, pikirku. sejenak kucari hikmah, ternyata dia termasuk Ciptaan-Nya seperti aku. 
Pertemuan dengan seorang Insan Agung di Negeri ini pun tercipta di alam pikir. tanpa banyak bicara, beliau membaca salam, sambil pergi meninggalkanku. Enggan melihat sesosok wujud makhluk ghaib berupa wanita. Alih-alih ternyata, aku sedikit keras kepala dan tidak mau tau dengan merasuknya sosok ghaib tersebut. aku pun mengangguk dan menjawab salam serta melambaikan tangan berarti selamat tinggal.
perjalanan itu terus ku jalani tanpa terus menerus kupikirkan, hanya ku sempatkan pada saat tertentu dan waktu dikamar saja. Berbagai makhluk ghaib tertera didepan mata, sesekali aku pun merasa takut, hanya saja aku yakin, Alloh bersama saya. Bukan saja Makhluk-makhluk ghaib yang terkenal di Indonesia, tetapi juga Dewa-dewa yang dianggap Tuhan oleh agama lain, terus menerus tampak, Dewa sang penguasa masing-masing bentuk materi alam.Aku hanya bisa tersenyum mereka, tetapi dari sisi lain juga aku merasa tak percaya bahwa dalam sebuah materi alam angkasa terdapat orang-orang seperti yang diungkapkan hadits-hadits, seperti pengalaman isra mi'raj Nabi Muhammad saw, tapi yang aku lihat bukan para nabi, ku lihat entah ruh atau semacam bentuk-bentukan jin. mereka bercengkrama satu sama lain. Subhanalloh....
Keadaan itu menjadikan aku yakin akan keadaan alam Ghaib. Tetapi sampai manakah tingkat keghaiban itu?, atau apakah benar hal-hal yang ghaib itu memiliki tingkatan?. Disini kudapatkan pengetahuan tentang hal yang ghaib bahwa ternyata hal itu berawal dari wujud materi yang tampak, kemudian sinar dan percikan sinar,seterusnya sesuatu yang berupa fatamorgana, udara yang bergerak ditengah sinar, dan entah apa namanya yang lebih halus dari yang berupa fatamorgana. seperti halnya angin sebagai udara yang bergerak tanpa wujud, hanya atsar (bekas) terpaan angin di wujud material.
Sejenak kupikirkan kembali tentang tingkatan keghaiban yang berasumsi dari bawah ke atas. Berawal dari ruang yang tak berbenda diatas tanah disertai cahaya yang bertumpu pada titik cahaya, matahari. Dalam gelap juga ada ruang yang tak mungkin hilang. sedikit gerak dari makhuk ghaib sesuatu  itu bergerak. kucoba menyentuhnya, dingin berbeda dengan diluar bentuk tersebut.
Selanjutnya, pencarian beranjak pada sisi literatur dan keyakinan yang ada di bumi ini. Satu sisi kudapatkan keyakinan terhadap sesuatu yang ghaib dari benda-benda material alam, hingga dianggap Tuhan. Ada Juga keyakinan terhadap Manusia yang dianggap bertuah dan memiliki keistimewaan yang luar biasa, hingga dianggap Tuhan Pula. Aku pun bertanya-tanya, Tuhan seperti apakah Yang Aku sembah?. Kekuasaannya Melebihi dari segala kekuasaan yang ada dimuka bumi dan alam semesta ini. Akhirnya, diantara keyakinan Yang ada dimuka bumi ini, Aku lebih Yakin dan percaya Akan adanya Alloh SWT, sebagaimana risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw
Penampakan Wujud manusia dihadapan dalam wujud yang sebenarnya dari Titik awal lapadz Alloh, yaitu titik atas sebelum alif, sebagaimana kepenasaran dalam benak saya "aku minta wujud apakah yang tertera dibalik titik ini". Ternyata manusia biasa (laki-laki) yang sedang berjalan diatas tanah menuju ke arahku. dan gambaran lapadz Alloh di hati ini menjadi inti gerak hati yang tiada duanya, ketenangan dan ketentraman hinggap dihati dan merambah keseluruh badan. adapun hal-hal yang berada di luar manusia itu hanyalah sebuah sajian sang Pencipta Untuk makhluk-makhluk-Nya.
Dengan Hati aku tidak bisa meyakini akan adanya Tuhan, dengan pikiran aku pun tidak mampu menemukan dan menuruti kepercayaan yang ada, kecuali Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Maka Dengan Segala Keterbatasan akal manusia ini, ku isi dan kumantapkan Hati ini, untuk tetap dalam jalan (Agama) Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Lailaha illalloh Muhammadun rasululloh.....
Ilmu dan Pengetahuan Alloh SWT lebih besar dari yang pernah kubayangkan.......

Minggu, 11 Agustus 2013

Al-Qolam: Metode Penulisan Al-Qur'an (Cara Cepat Belajar menulis Arab Melalui Ketentuan huruf-huruf yang Bisa disatukan dan Tidak Bisa Disatukan)

Berawal dari Ungkapan (Firman) SWT, wahyu pertama ayat ke-3 dari surat al-Alaq, saya merasa sangat kagum dengan tahapan pembelajaran yang Alloh berikan kepada Nabi Muhammad saw, khususnya tentang menulis. tidak sedikit diantara kaum muslimin belajar membaca dan menulis arab (al-Qur'an). akan tetapi tidak sedikit yang melupakan tentang pembelajaran itu. sehingga beberapa ahli atau penulis mencari cara untuk mempermudah pembelajaran kedua tahap awal pembelajaran manusia secara formal ini. Khususnya dari cara menulis atau merangkai huruf arab.
Bentuk-bentuk (format) cara belajar membaca dan menulis disajikan dalam metode yang berbeda-beda. penulis melihat, kebanyakan bentuk metode yang disajikan adalah bentuk yang disatukan, yaitu penyatuan cara membaca dan menulis. penyajian cara membaca al-Qur'an disajikan dengan berbagai metode yang spesifik. sedangkan dalam cara penulisan arab berbeda dengan cara/metode menulis al-Qur'an yang hanya mengandalkan penempatan huruf-huruf diawal, ditengah dan diakhir tanpa mengetahui ketentuan huruf-huruf tertentu, yang mana dari keseluruhan huruf-huruf hijaiyah terdapat huruf-huruf yang berbeda dengan huruf-huruf lainnya bila dilihat dari segi penyatuan dan pemisahan antar huruf. 
oleh karena itu, penulis merasa perlu menyajikan cara atau metode yang spesifik dari cara menulis, yaitu metode al-Qolam yang menyajikan cara cepat belajar menulis arab melalui ketentuan huruf-huruf yang bisa disatukan dan tidak bisa disatukan. keinginan dan harapan penulis ini selain didorong adanya realita orang-orang dewasa yang belum bisa menulis, sungguh disayangkan hal itu terjadi karena betapa mudahnya cara menulis arab. terutama bagi orang dewasa sekarang ini yang hanya memiliki waktu sedikit untuk belajar. anda hanya butuh satu waktu dalam seminggu untuk menghapal dan mengingatnya. karena metode al-Qolam ini mampu dipelajari dengan cepat dan bisa hapal dalam satu kali belajar, dengan syarat orang tersebut telah mengetahui keseluruhan huruf-huruf hijaiyah. khusus orang yang sudah pintar membaca al-Qur'an tapi belum bisa menuliskannya, anda bisa coba metode al-Qolam ini. 
Selebihnya metode al-qolam ini bersandar dari hadits rasulullah saw.Abu Amr berkata “Alasan kenapa setelah huruf alif adalah huruf baataatsaaadalah karena huruf tersebut adalah huruf yang paling banyak Dari Ahmad bin Ibrahim bin Faras Al Makky, dan Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad, dari kakeknya, dari Sufyan bin ‘Uyainah dari Mujalid, dari as Sya’by, ia berkata: “Kami ditanya orang-orang muhajirin:“dari mana kalian belajar menulis? Kami menjawab: “dari penduduk suku Hiyarah. Kemudian orang-orang Muhajirin mengklarifikasi berita itu kepada penduduk Hiyarah. Mereka bertanya: “Dari mana kalian belajar menulis? Penduduk suku Hiyarah menjawab: “Kama belajar dari: suku Anbar”.
Abu ‘Amr mengatakan: “Dalam kitab Muhammad bin Sahnun terdapat riwayat sebagai berikut: Dari Abul Hajjaj yang mempunyai nama asli Sakan bin Tsabit berkata: dad. Abdullah bin Farukh dari Abdur Rahman bin Ziyad bin An’am al Mu’afiry dari ayahnya Ziyad bin An’am ia berkata: “saya berkata kepada Abdullah bin Abbas: “Wahai suku Quraisy, apakah kalian pada zaman jahiliyyah menulis dengan tulisan Arab seperti ini, kalian menggabungkan huruf tertentu dan memisah huruf tertentu, ada alif, lam,mim, syakl, qath’ dan lain-lain sebelum Allah mengutus Nab’ SAW?”
Ia menjawab: “ya”,
Lalu aku berkata: ‘Siapa yang mengajari kalian menulis?”.
Ia menjawab: “Harb bin `Umayyah”.
Aku bertanya lagi: “Lalu siapa yang mengajari Harb bin Umayyah?”.
Ia menjawab: “Abdullah bin Jud’an”.
Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari Abdullah bin Jud’an?”.
Ia menjawab: “Penduduk Al Anbar”.
Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari penduduk Al Anbar?”.
Ia menjawab: “Seseorang yang datang dari tanah Yaman, dari suku Kindah”.
Aku bertanya lagi: “Lalu siapakah yang mengajarkan seseorang tersebut?”.
Ia menjawab: “Al Juljan bin Al Muhim, ia adalah sekretaris nabi Hud as untuk menuliskan Wahyu dari Allah SWT.”
Dari Ibnu Affan, dari Qasim, dari Ahmad bin Abi Khaitsamah ia berkata: “Huruf Hijaiyyah berjumlah 29 huruf, semua lafal dan tulisan Arab tidak bisa lepas dari huruf tersebut.”
Dari Ibrahim bin Al Khattab al Lama’iy, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah dari Ahmad bin Musa bin Ismail al-Anbary dari Muhammad bin Hatim Al Muaddib dari Ahmad bin Ghassan dari Hamid bin Al Madainy dari Abdullah bin Said, ia berkata: “Telah sampai kepada kita sebuah riwayat bahwa ketika huruf-huruf Mu’jam yang berjumlah 29 menghadap Yang Maha Pengasih, huruf Alif merendahkan diri dihadapan-Nya. Allah terkesan dengan sikap rendah hatinya, lalu Dia menjadikan alif sebagai awalan dari nama-Nya (Allah)”.
Abu Amr berkata: “Sebagian ahli bahasa mengatakan alasan alif menempati urutan pertama karena alif merupakan representasi dari hamzah yang menjadi awal kalimat, alif layyinah, dan hampir semua hamzah.”
Kemudian alif hanya menjadi awal kalimat tatkala huruf yang lain yaitu wawu danyaa ikut merepresentasikan dirinya yang pada keadaan yang lain berbentuk hamzah di tengah dan di akhir. menyerupai huruf yang lain, di mana jika huruf yaa dan nuun terletak pada awal kalimat atau di tengah kalimat maka akan menyerupainya sehingga kalau di jumlah ada 5 huruf yang berkarakter sama. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluamya adalah dengan mendahulukan urutannya. Kemudian urutan setelah baa,taatsaaadalah jiimhaakhaa.” Tertib urutan huruf yang serupa (mutasyabihat) dan Mazdujat (daldzalra’ dan lain-tain) adalah sesuai dengan sedikit atau banyaknya frekwensi dipergunakan dalam percakapan. Jadi semakin depan urutannya, semakin banyak digunakan dalam percakapan. Kecuali untuk huruf nun dan yaa sekalipun kedua huruf tersebut diakhirkan namun ia mempunyai derajat yang sama dengan huruf yang menempati urutan di depan karena huruf yang menyerupai karaktemya telah di tempatkan di depan (batatsa).
Selanjutnya Abu Amr mengatakan diantara huruf ada juga yang tidak bisa disambung dengan huruf yang lain setelahnya. Jumlahnya ada 6 yaitu : alifdaldzalraza, danwawuAlasan kenapa huruf tersebut tidak bisa disambung dengan huruf yang lain juga sama dengan di atas yaitu untuk menghindari keserupaan antar huruf. Andaikata alif bisa disambung dengan huruf lain setelahnya, akan serupa dengan huruf lam, danwawu akan sama dengan huruf fa dan qaf, dan daldzalraza akan sama dengan yaadan ta.
Alasan lain yang dikemukakan Abu Amr tentang rahasia di batik urutan huruf hijaiyyah adalah: Alif menempati urutan pertama karena dua alasan yaitu berdasarkan Khabar (tentang sikap rendah diri Alif di hadapan Allah) dan Nadzar(pemyataan ahli bahasa yang telah dijelaskan di atas). Selain itu karena Alif menjadi awal dari ayat surat Al Fatihah yang merupakan induk Al Quran dan
karena seringnya digunakan dalam tulisan dan percakapan. Bisa disimpulkan huruf alif adalah huruf yang hampir seluruh kata tidak bisa dan tidak mungkin terlepas darinya dan paling banyak diulang dan digunakan dalam percakapan.
Kemudian huruf setelah alif adalah huruf baataatsaa. Oleh karena ketiga huruf tersebut yang terbanyak mempunyal karakter yang sama maka tradisi pun mengikutinya untuk menulisnya setelah alif.
Itulah hadits yang mendorong saya untuk lebih baik dalam mengetengahkan metode atau cara menulis arab.
Moch (Wawa) Farid Wazdi Sanjari At-Taziky
Taziex'11/08/2013

Sabtu, 27 Juli 2013

BERTAHAN DENGAN KESABARAN

Sabar adalah salah satu sifat terbaik diantara Akhlakul karimah (akhlak/perangai yang baik). Kesabaran seseorang tidak bisa datang begitu saja tanpa sebuah pembinaan untuk memupuk sifat ini. Kesabaran yang semestinya dimiliki setiap orang ada 3 macam. Pertama, sabar dari musibat. sabar dari musibat adalah sebuah kesabaran yang dimiliki ketika terkena musibat apapun bentuknya. Misalnya seseorang ditimpa sakit dan kemudian berobat. musibat sakit yang ditimpakan kepadanya menuntut kepadanya agar ia bersabar karena tertimpa sakit. Jangan sampai murka dan menyalahkan terhadap nasib yang menimpa kepadanya.
kedua, sabar dari maksiat. sabar dari maksiat artinya sebuah kesabaran yang tumbuh karena menahan dorongan terhadap diri untuk melakukan maksiat. Ketiga, sabar dari taat. Kesabaran ini tumbuh karena taat kepada Alloh Swt. sehingga dalam ketaatan yang berupa peribadahannya diiringi dengan penuh keikhlasan sesuai dengan anjuran Alloh SWT yang menyatakan bahwa tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Alloh Swt dengan penuh keikhlasan yang baginya agama (al-bayyinah). Ketiga macam kesabaran yang diajarkan rasulullah saw itu merupakan bekal hidup kita selama di dunia. 
Tidaklah Alloh SWT dan Rasul-NYa menyuruh sesuatu tanpa ada sesuatu yang lain, yang mampu menumbuhkan dan menimbulkan hal itu terwujud, seperti halnya sifat sabar. sifat sabar yang dianjurkan Alloh SWT dan Rasul-Nya bisa dibentuk berdasarkan fondasi inti dari islam itu sendiri, yaitu berpuasa. puasa adalah pembinaan kesabaran terhadap apa-apa yang kita jalani selama di dunia ini. Maka berpuasa diwajibkan oleh Alloh SWT dan rasul-NYa untuk kita sebagai ummat islam, yang mana puasa adalah salah satu rukun Islam. oleh karena itu, apabila kita ingin memiliki sifat sabar maka berpuasalah. 
19 Ramadhan/28 Juli 2013
Moch. (Wawa) Farid Wazdi Nurtsani Sanjari Al-Khoeiry at-Taziky

Selasa, 12 Maret 2013

Sang Yazid Nural Iman

Tertera di sudut itu, secercah cahaya bernaung dihadapanku. Sesekali berkilau, ku sapa dengan tanganku, lembut tak berwujud. dingin mengitari cahaya yang kadang redup kadang berkilau. berkas cahayanya kian benderang sesaat ku tengadah mencari hikmah. Meredup saat tak kusapa. Begitu tenang saat ku ingat dan bayangkan Nama-Mu yang kuasa-Nya tiada banding tiada tanding.
Kuyakin itu bukan hakikat Diri-Mu, hanyalah secercah cahaya berkilau ciptaan-Mu dalam Bentuk Asma-Mu. karena saat cahya itu ku pikirkan dan kulukis dalam nama dan bentuk lain, ternyata bermanifestasi sebagaimana ku pikir. tidak benar kiranya sang prasangka bahwa Sang Maha Kuasa ada disebabkan pikiran dan anggapan saja.Tuhan Yang Sebenarnya adalah Tuhan Maha segala Kesempurnaan. 
Sanghyang dari yang Hyang. Karena wujud hyang terbatas pikiran dan rasa manusia. ataukah sebuah kefrustasian dari para penyembah yang masih ada kelemahan?. Makhluk yang sangat berkuasa dan memiliki kekuatan yang hanya memiliki kelebihan dari yang lain. Tidak sefrustasi itu kiranya, pikiran manusia hingga tersesat dalam naungan kekuatan luar biasa yang masih hasil buatan Yang Maha segala. 
Apa qiyas Ibrahim mencari Tuhan tidak cukup menjadi pelajaran atas Kefrustasian Akal pikir manusia dan kekuatan manusia yang terbatas? hingga Sang Bapak dari Para Nabi ini menyerahkan segala daya upayanya ke Hadirat Sang Pencipta Alam semesta, Alloh SWT. Betapa Besarnya Matahari yang terlihat dengan kasat mata, dari cahaya yang terus bersinar tanpa padam hingga tak tahu kapan meredanya api itu menyala. Sang Isme Alam dengan sebuah topangan jiwa alam dijadikan sesembahan, bagaimana dengan jiwa-jiwa yang menguasai bagian alam lain yang tidak terlihat dengan kasat mata manusia. Masih sebagai Tuhankah?
atau kesucian seorang Manusia hanya karena menjauhi fitrah-fitrah qodrati menjadikannya suci tanpa debu, masih dijadikan Tuhan pula. Bagaimana kiranya manusia yang lain yang mampu seperti dia?, masih dianggap sebagai Tuhan?. bagaimana kiranya kehendak Tuhan Yang satu dengan Yang lain berkehendak berbeda. Surga atau nirwana yang layak diberikan satu Tuhan sedang Tuhan Yang lain tak berkehendak. hancurlah makhluk-makhluknya.
Tuhan sang Penguasa alam semesta, Yang menguasai Jiwa-jiwa berwujud yang kasat mata maupun tak kasat mata. Dalam Hakikat Tuhan Yang sebenarnya, Tuhan yang memiliki kehendak tanpa campur tangan Makhluk-Nya. kita sebagai makhluk-makhluk-Nya hanya berkehendak atas kehendak fitrah yang diberikann-Nya.
Masihkah ada secercah cahaya yang terus menyinari ranah hati dan jiwa yang terus membahana sebagai penambah keimanan dan jiwa keimanan sebenarnya, agar kutemukan kebenaran demi kebenaran tentang Kuasa-Mu dan Aku Mampu Membumi dalam hidup yang Nyata ini.
Akhirnya, atas Kuasa-Mu Ya Alloh...Ya Rabbi... Di sudut manapun ciptaan-Mu hidup. Maka disanalah Mereka bersama dalam qodrat hidup garis horizontal masing-masing.
Lirih hati hamba-Mu mencari Tambahan Cahaya Iman yang terkadang terkikis dan abrasi di sisi relung hati. Dzikir, Pikir, Ikhtiar dan Hissi menjadi instrument konsepsi hidup ini.

Jumat, 15 Februari 2013

Bercermin dari Filsafat Mulasadra

Hikmah Muta'aliyah/hikmah al-'Ursiyah adalah salah satu falsafah yang dicetuskan oleh Mulasadra. persatuan antara filsafat peripatetik dan filsafat iluminatif ini sangat mencengangkan karena filsafat ini mampu menggali sesuatu yang tabu menjadi seperti biasa dengan penilaian yang sangat luar biasa dari para filosof yang ada. Daya ingat dan daya imaginatif manusia digali dengan sangat sederhana dengan bahasa filsafat yang cukup rumit (dalam terjemahan dalam bahasa indonesia).
Dalam pandangan yang inklusif, filsafat ini sangat cocok dengan dalil-dalil universal tentang pemahaman dan kemaslahatan ummat, yaitu pemahaman antara sumber/pedoman hidup manusia dengan hakikat manusia, dalil naqli dan dalil 'aqli demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Hakikat manusia sebagai hewan yang berakal atau yang berpikir adalah sebuah kondisi fitrah manusia tercipta kedunia, karena tidak ada seorang pun manusia yang terlahir dengan memiliki ilmu pengetahuan tanpa belajar sebagaimana Nabi Adam di perkenalkan (diajarkan) Alloh SWT tentang Nama-Nama yang ada di sekitarnya. ranah kognitif manusia yang memiliki bagian-bagian yang sebelumnya tidak terpikir secara naluri (lebih dari sekedar memory) ternyata dengan teori filsafat hikmah Muta'aliyah ini hal tersebut bisa terungkap dengan logika yang sederhana tapi cerdas. Begitupun tentang alam-alam yang akan dilalui oleh manusia disajikan dengan pemahaman dan asumsi-asumsi yang mudah dipahami.  Bukan saja tentang masalah alam-alam yang akandilalui manusia setelah meninggal tetapi semua hal yang ada dalam pembahasan buku Mullasadra tersebut, seperti proses kenabian dan pewahyuannya. 
Ada asumsi lain yang mungkin bisa disimak dari filsafat hikmah muta'aliyah ini, yaitu jika semua kondisi dan keadaan manusia yang dijelaskan "dibumikan" kedalam sebuah tatanan kehidupan manusia sehingga kita mampu memandang dari berbagai dimensi (disiplin ilmu). Bukankah ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling tinggi yang mampu menguraikan segala sesuatu dan mencetuskan disiplin ilmu yang lain.
Alangkah indahnya jika seseorang mampu memahami isi buku kearifan puncak (Hikmah Muta'aliyah) Mulashadra ini. Buku ini "beraroma" syi'i yang cenderung lebih mengutamakan akal, namun tidak ada salahnya jika dikaji dengan teori ketauhdian atau ilmu kalam sunni yang sama-sama memiliki prinsip menjaga keseimbangan dalam ketauhidan (sejarah murji'ah dan khawariz)/Qadariyah dan Jabariyah. Ahlusunnah wal jam'ah tinggal mengimbangi dan melengkapinya dengan dalil naqli berupa hadits rasulullah saw (kalau memang tidak ada hadits).
Keselarasan antara dalil naqli (al-Qur'an) dengan dalil 'aqli yang dikemukakan mullasadra sangat menarik bila dilengkapi dan dikaji oleh golongan Ahlusunnah wal Jama'ah terutama dalam kesesuaian wacana buku dengan hadits-hadits rasulullah saw (para ahli hadits). Apalagi sekarang ini hadits rasulullah saw hampir diabaikan baik dari validitas maupun pemakaian hadits dalam wacana ketauhidan. dan di Indonesia aliran syi'ah belum bisa diterima karena mayoritas masyarakat islam indonesia masih berasumsi "sesat' dan miring, yaitu tentang "pendewaan" sayyidina ali dari pada Nabi Muhammad dan lebih mengutamakan akal dari pada dalil naqli terutama hadits Nabi.