Tertera di sudut itu, secercah cahaya bernaung dihadapanku. Sesekali berkilau, ku sapa dengan tanganku, lembut tak berwujud. dingin mengitari cahaya yang kadang redup kadang berkilau. berkas cahayanya kian benderang sesaat ku tengadah mencari hikmah. Meredup saat tak kusapa. Begitu tenang saat ku ingat dan bayangkan Nama-Mu yang kuasa-Nya tiada banding tiada tanding.
Kuyakin itu bukan hakikat Diri-Mu, hanyalah secercah cahaya berkilau ciptaan-Mu dalam Bentuk Asma-Mu. karena saat cahya itu ku pikirkan dan kulukis dalam nama dan bentuk lain, ternyata bermanifestasi sebagaimana ku pikir. tidak benar kiranya sang prasangka bahwa Sang Maha Kuasa ada disebabkan pikiran dan anggapan saja.Tuhan Yang Sebenarnya adalah Tuhan Maha segala Kesempurnaan.
Sanghyang dari yang Hyang. Karena wujud hyang terbatas pikiran dan rasa manusia. ataukah sebuah kefrustasian dari para penyembah yang masih ada kelemahan?. Makhluk yang sangat berkuasa dan memiliki kekuatan yang hanya memiliki kelebihan dari yang lain. Tidak sefrustasi itu kiranya, pikiran manusia hingga tersesat dalam naungan kekuatan luar biasa yang masih hasil buatan Yang Maha segala.
Apa qiyas Ibrahim mencari Tuhan tidak cukup menjadi pelajaran atas Kefrustasian Akal pikir manusia dan kekuatan manusia yang terbatas? hingga Sang Bapak dari Para Nabi ini menyerahkan segala daya upayanya ke Hadirat Sang Pencipta Alam semesta, Alloh SWT. Betapa Besarnya Matahari yang terlihat dengan kasat mata, dari cahaya yang terus bersinar tanpa padam hingga tak tahu kapan meredanya api itu menyala. Sang Isme Alam dengan sebuah topangan jiwa alam dijadikan sesembahan, bagaimana dengan jiwa-jiwa yang menguasai bagian alam lain yang tidak terlihat dengan kasat mata manusia. Masih sebagai Tuhankah?
atau kesucian seorang Manusia hanya karena menjauhi fitrah-fitrah qodrati menjadikannya suci tanpa debu, masih dijadikan Tuhan pula. Bagaimana kiranya manusia yang lain yang mampu seperti dia?, masih dianggap sebagai Tuhan?. bagaimana kiranya kehendak Tuhan Yang satu dengan Yang lain berkehendak berbeda. Surga atau nirwana yang layak diberikan satu Tuhan sedang Tuhan Yang lain tak berkehendak. hancurlah makhluk-makhluknya.
Tuhan sang Penguasa alam semesta, Yang menguasai Jiwa-jiwa berwujud yang kasat mata maupun tak kasat mata. Dalam Hakikat Tuhan Yang sebenarnya, Tuhan yang memiliki kehendak tanpa campur tangan Makhluk-Nya. kita sebagai makhluk-makhluk-Nya hanya berkehendak atas kehendak fitrah yang diberikann-Nya.
Masihkah ada secercah cahaya yang terus menyinari ranah hati dan jiwa yang terus membahana sebagai penambah keimanan dan jiwa keimanan sebenarnya, agar kutemukan kebenaran demi kebenaran tentang Kuasa-Mu dan Aku Mampu Membumi dalam hidup yang Nyata ini.
Akhirnya, atas Kuasa-Mu Ya Alloh...Ya Rabbi... Di sudut manapun ciptaan-Mu hidup. Maka disanalah Mereka bersama dalam qodrat hidup garis horizontal masing-masing.
Lirih hati hamba-Mu mencari Tambahan Cahaya Iman yang terkadang terkikis dan abrasi di sisi relung hati. Dzikir, Pikir, Ikhtiar dan Hissi menjadi instrument konsepsi hidup ini.