Minggu, 11 Agustus 2013

Al-Qolam: Metode Penulisan Al-Qur'an (Cara Cepat Belajar menulis Arab Melalui Ketentuan huruf-huruf yang Bisa disatukan dan Tidak Bisa Disatukan)

Berawal dari Ungkapan (Firman) SWT, wahyu pertama ayat ke-3 dari surat al-Alaq, saya merasa sangat kagum dengan tahapan pembelajaran yang Alloh berikan kepada Nabi Muhammad saw, khususnya tentang menulis. tidak sedikit diantara kaum muslimin belajar membaca dan menulis arab (al-Qur'an). akan tetapi tidak sedikit yang melupakan tentang pembelajaran itu. sehingga beberapa ahli atau penulis mencari cara untuk mempermudah pembelajaran kedua tahap awal pembelajaran manusia secara formal ini. Khususnya dari cara menulis atau merangkai huruf arab.
Bentuk-bentuk (format) cara belajar membaca dan menulis disajikan dalam metode yang berbeda-beda. penulis melihat, kebanyakan bentuk metode yang disajikan adalah bentuk yang disatukan, yaitu penyatuan cara membaca dan menulis. penyajian cara membaca al-Qur'an disajikan dengan berbagai metode yang spesifik. sedangkan dalam cara penulisan arab berbeda dengan cara/metode menulis al-Qur'an yang hanya mengandalkan penempatan huruf-huruf diawal, ditengah dan diakhir tanpa mengetahui ketentuan huruf-huruf tertentu, yang mana dari keseluruhan huruf-huruf hijaiyah terdapat huruf-huruf yang berbeda dengan huruf-huruf lainnya bila dilihat dari segi penyatuan dan pemisahan antar huruf. 
oleh karena itu, penulis merasa perlu menyajikan cara atau metode yang spesifik dari cara menulis, yaitu metode al-Qolam yang menyajikan cara cepat belajar menulis arab melalui ketentuan huruf-huruf yang bisa disatukan dan tidak bisa disatukan. keinginan dan harapan penulis ini selain didorong adanya realita orang-orang dewasa yang belum bisa menulis, sungguh disayangkan hal itu terjadi karena betapa mudahnya cara menulis arab. terutama bagi orang dewasa sekarang ini yang hanya memiliki waktu sedikit untuk belajar. anda hanya butuh satu waktu dalam seminggu untuk menghapal dan mengingatnya. karena metode al-Qolam ini mampu dipelajari dengan cepat dan bisa hapal dalam satu kali belajar, dengan syarat orang tersebut telah mengetahui keseluruhan huruf-huruf hijaiyah. khusus orang yang sudah pintar membaca al-Qur'an tapi belum bisa menuliskannya, anda bisa coba metode al-Qolam ini. 
Selebihnya metode al-qolam ini bersandar dari hadits rasulullah saw.Abu Amr berkata “Alasan kenapa setelah huruf alif adalah huruf baataatsaaadalah karena huruf tersebut adalah huruf yang paling banyak Dari Ahmad bin Ibrahim bin Faras Al Makky, dan Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad, dari kakeknya, dari Sufyan bin ‘Uyainah dari Mujalid, dari as Sya’by, ia berkata: “Kami ditanya orang-orang muhajirin:“dari mana kalian belajar menulis? Kami menjawab: “dari penduduk suku Hiyarah. Kemudian orang-orang Muhajirin mengklarifikasi berita itu kepada penduduk Hiyarah. Mereka bertanya: “Dari mana kalian belajar menulis? Penduduk suku Hiyarah menjawab: “Kama belajar dari: suku Anbar”.
Abu ‘Amr mengatakan: “Dalam kitab Muhammad bin Sahnun terdapat riwayat sebagai berikut: Dari Abul Hajjaj yang mempunyai nama asli Sakan bin Tsabit berkata: dad. Abdullah bin Farukh dari Abdur Rahman bin Ziyad bin An’am al Mu’afiry dari ayahnya Ziyad bin An’am ia berkata: “saya berkata kepada Abdullah bin Abbas: “Wahai suku Quraisy, apakah kalian pada zaman jahiliyyah menulis dengan tulisan Arab seperti ini, kalian menggabungkan huruf tertentu dan memisah huruf tertentu, ada alif, lam,mim, syakl, qath’ dan lain-lain sebelum Allah mengutus Nab’ SAW?”
Ia menjawab: “ya”,
Lalu aku berkata: ‘Siapa yang mengajari kalian menulis?”.
Ia menjawab: “Harb bin `Umayyah”.
Aku bertanya lagi: “Lalu siapa yang mengajari Harb bin Umayyah?”.
Ia menjawab: “Abdullah bin Jud’an”.
Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari Abdullah bin Jud’an?”.
Ia menjawab: “Penduduk Al Anbar”.
Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari penduduk Al Anbar?”.
Ia menjawab: “Seseorang yang datang dari tanah Yaman, dari suku Kindah”.
Aku bertanya lagi: “Lalu siapakah yang mengajarkan seseorang tersebut?”.
Ia menjawab: “Al Juljan bin Al Muhim, ia adalah sekretaris nabi Hud as untuk menuliskan Wahyu dari Allah SWT.”
Dari Ibnu Affan, dari Qasim, dari Ahmad bin Abi Khaitsamah ia berkata: “Huruf Hijaiyyah berjumlah 29 huruf, semua lafal dan tulisan Arab tidak bisa lepas dari huruf tersebut.”
Dari Ibrahim bin Al Khattab al Lama’iy, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah dari Ahmad bin Musa bin Ismail al-Anbary dari Muhammad bin Hatim Al Muaddib dari Ahmad bin Ghassan dari Hamid bin Al Madainy dari Abdullah bin Said, ia berkata: “Telah sampai kepada kita sebuah riwayat bahwa ketika huruf-huruf Mu’jam yang berjumlah 29 menghadap Yang Maha Pengasih, huruf Alif merendahkan diri dihadapan-Nya. Allah terkesan dengan sikap rendah hatinya, lalu Dia menjadikan alif sebagai awalan dari nama-Nya (Allah)”.
Abu Amr berkata: “Sebagian ahli bahasa mengatakan alasan alif menempati urutan pertama karena alif merupakan representasi dari hamzah yang menjadi awal kalimat, alif layyinah, dan hampir semua hamzah.”
Kemudian alif hanya menjadi awal kalimat tatkala huruf yang lain yaitu wawu danyaa ikut merepresentasikan dirinya yang pada keadaan yang lain berbentuk hamzah di tengah dan di akhir. menyerupai huruf yang lain, di mana jika huruf yaa dan nuun terletak pada awal kalimat atau di tengah kalimat maka akan menyerupainya sehingga kalau di jumlah ada 5 huruf yang berkarakter sama. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluamya adalah dengan mendahulukan urutannya. Kemudian urutan setelah baa,taatsaaadalah jiimhaakhaa.” Tertib urutan huruf yang serupa (mutasyabihat) dan Mazdujat (daldzalra’ dan lain-tain) adalah sesuai dengan sedikit atau banyaknya frekwensi dipergunakan dalam percakapan. Jadi semakin depan urutannya, semakin banyak digunakan dalam percakapan. Kecuali untuk huruf nun dan yaa sekalipun kedua huruf tersebut diakhirkan namun ia mempunyai derajat yang sama dengan huruf yang menempati urutan di depan karena huruf yang menyerupai karaktemya telah di tempatkan di depan (batatsa).
Selanjutnya Abu Amr mengatakan diantara huruf ada juga yang tidak bisa disambung dengan huruf yang lain setelahnya. Jumlahnya ada 6 yaitu : alifdaldzalraza, danwawuAlasan kenapa huruf tersebut tidak bisa disambung dengan huruf yang lain juga sama dengan di atas yaitu untuk menghindari keserupaan antar huruf. Andaikata alif bisa disambung dengan huruf lain setelahnya, akan serupa dengan huruf lam, danwawu akan sama dengan huruf fa dan qaf, dan daldzalraza akan sama dengan yaadan ta.
Alasan lain yang dikemukakan Abu Amr tentang rahasia di batik urutan huruf hijaiyyah adalah: Alif menempati urutan pertama karena dua alasan yaitu berdasarkan Khabar (tentang sikap rendah diri Alif di hadapan Allah) dan Nadzar(pemyataan ahli bahasa yang telah dijelaskan di atas). Selain itu karena Alif menjadi awal dari ayat surat Al Fatihah yang merupakan induk Al Quran dan
karena seringnya digunakan dalam tulisan dan percakapan. Bisa disimpulkan huruf alif adalah huruf yang hampir seluruh kata tidak bisa dan tidak mungkin terlepas darinya dan paling banyak diulang dan digunakan dalam percakapan.
Kemudian huruf setelah alif adalah huruf baataatsaa. Oleh karena ketiga huruf tersebut yang terbanyak mempunyal karakter yang sama maka tradisi pun mengikutinya untuk menulisnya setelah alif.
Itulah hadits yang mendorong saya untuk lebih baik dalam mengetengahkan metode atau cara menulis arab.
Moch (Wawa) Farid Wazdi Sanjari At-Taziky
Taziex'11/08/2013