Hikmah Muta'aliyah/hikmah al-'Ursiyah adalah salah satu falsafah yang dicetuskan oleh Mulasadra. persatuan antara filsafat peripatetik dan filsafat iluminatif ini sangat mencengangkan karena filsafat ini mampu menggali sesuatu yang tabu menjadi seperti biasa dengan penilaian yang sangat luar biasa dari para filosof yang ada. Daya ingat dan daya imaginatif manusia digali dengan sangat sederhana dengan bahasa filsafat yang cukup rumit (dalam terjemahan dalam bahasa indonesia).
Dalam pandangan yang inklusif, filsafat ini sangat cocok dengan dalil-dalil universal tentang pemahaman dan kemaslahatan ummat, yaitu pemahaman antara sumber/pedoman hidup manusia dengan hakikat manusia, dalil naqli dan dalil 'aqli demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Hakikat manusia sebagai hewan yang berakal atau yang berpikir adalah sebuah kondisi fitrah manusia tercipta kedunia, karena tidak ada seorang pun manusia yang terlahir dengan memiliki ilmu pengetahuan tanpa belajar sebagaimana Nabi Adam di perkenalkan (diajarkan) Alloh SWT tentang Nama-Nama yang ada di sekitarnya. ranah kognitif manusia yang memiliki bagian-bagian yang sebelumnya tidak terpikir secara naluri (lebih dari sekedar memory) ternyata dengan teori filsafat hikmah Muta'aliyah ini hal tersebut bisa terungkap dengan logika yang sederhana tapi cerdas. Begitupun tentang alam-alam yang akan dilalui oleh manusia disajikan dengan pemahaman dan asumsi-asumsi yang mudah dipahami. Bukan saja tentang masalah alam-alam yang akandilalui manusia setelah meninggal tetapi semua hal yang ada dalam pembahasan buku Mullasadra tersebut, seperti proses kenabian dan pewahyuannya.
Ada asumsi lain yang mungkin bisa disimak dari filsafat hikmah muta'aliyah ini, yaitu jika semua kondisi dan keadaan manusia yang dijelaskan "dibumikan" kedalam sebuah tatanan kehidupan manusia sehingga kita mampu memandang dari berbagai dimensi (disiplin ilmu). Bukankah ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling tinggi yang mampu menguraikan segala sesuatu dan mencetuskan disiplin ilmu yang lain.
Alangkah indahnya jika seseorang mampu memahami isi buku kearifan puncak (Hikmah Muta'aliyah) Mulashadra ini. Buku ini "beraroma" syi'i yang cenderung lebih mengutamakan akal, namun tidak ada salahnya jika dikaji dengan teori ketauhdian atau ilmu kalam sunni yang sama-sama memiliki prinsip menjaga keseimbangan dalam ketauhidan (sejarah murji'ah dan khawariz)/Qadariyah dan Jabariyah. Ahlusunnah wal jam'ah tinggal mengimbangi dan melengkapinya dengan dalil naqli berupa hadits rasulullah saw (kalau memang tidak ada hadits).
Keselarasan antara dalil naqli (al-Qur'an) dengan dalil 'aqli yang dikemukakan mullasadra sangat menarik bila dilengkapi dan dikaji oleh golongan Ahlusunnah wal Jama'ah terutama dalam kesesuaian wacana buku dengan hadits-hadits rasulullah saw (para ahli hadits). Apalagi sekarang ini hadits rasulullah saw hampir diabaikan baik dari validitas maupun pemakaian hadits dalam wacana ketauhidan. dan di Indonesia aliran syi'ah belum bisa diterima karena mayoritas masyarakat islam indonesia masih berasumsi "sesat' dan miring, yaitu tentang "pendewaan" sayyidina ali dari pada Nabi Muhammad dan lebih mengutamakan akal dari pada dalil naqli terutama hadits Nabi.