Ilmu Nahwu atau Ilmu Dasar Sastra Arab di kalangan muslim sudah tidak asing lagi. ilmu ini dipelajari di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Di dalamnya terdapat sebuah gambaran sisi kehidupan manusia meski terlihat gamblang (universal). Sepintas lalu sulit dipercaya ketika mendengar dari teman tentang ilmu nahwu sebagai deskripsi sisi kehidupan manusia, mana ada Ilmu bahasa yang digunakan hanya untuk bercengkrama menjadi sebuah gambaran atau deskripsi kehidupan manusia. Sebelumnya esensi dan subtansi ilmu nahwu yang masih dianggap samar ini membuahkan kepenasaran yang sangat dalam meskipun bukunya belum pernah saya lihat dan pegang. Konon Substansi Ilmu nahwu ini dibuat pertama kali oleh Mama KH. Dimyati asal Banten. ( Kiyai tersebut sampai sekarang belum saya ketahui begitupun buku atau kitabnya). Namun secara perlahan, setelah dipelajari (meski belum terlalu bisa), ternyata berdasarkan asumsi-asumsi dan disesuaikan melalui syarah kitab aj-jurumiah memang bisa dibenarkan.
Berawal dari definisi Kalam yang didefinisikan sebagai lapad yang tersusun yang bisa dipahami melalui penempatan struktur bahasa arab. kalam tersebut tidak bisa sempurna ketika hanya dibentuk/disusun dengan satu lapad saja tentu membutuhkan lapad atau kata lain, yaitu bentuk kata yang berupa isim (kata benda), fi'il (kata kerja) dan haraf (kata sambung/penghubung). begitupun manusia tidak bisa hidup sendiri tetapi membutuhkan hal lain dan manusia hidup secara dinamis serta kadang membutuhkan instrumen dalam hidupnya.
hidup manusia yang selalu beraktivitas membawa nasibnya pada sebuah kedudukan/eksistensi dalam lingkungannya baik melalui intrument (alat) atau pun tidak. tidak jauh berbeda dengan sebuah bentuk kata isim yang membutuhkan isim lainnya atau membutuhkan fi'il ataupun membutuhkan harap agar kalam bisa dipahami. seperti fi'il membutuhkan fail, mubtada membutuhkan khobar atau pun untuk lebih melengkapi keadaan kalam dibumbuhi haraf yang datang membawa makna.
selain dari itu, eksistensi manusia didunia ini tidak statis berubah sebagaimana berubahnya i'rob untuk isim. ditunjang dengan pekerjaan yang sama-sama memiliki hierarikis yang berbeda, seperti tukang kebun dengan direktur, sebagai qiyas dari 'irob bagi fi'il. ada 3 eksistensi manusia dalam kehidupan manusia, yaitu tinggi, sedang/menengah dan rendah, sama halnya dengan i'rob untuk isim (kata benda) ada 3, i'rob Rofa (tinggi), Nashab (sedang) dan khofad (rendah).
Tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang memiliki 3 eksistensi; pekerjaan yang baik, yang sedang dan sia-sia atau rendah. atau juga bisa dikaitkan dengan manusia, yaitu pekerjaan yang dianggap baik (mujur) bagi manusia, ada juga sedang atau biasa-biasa saja dan pekerjaan yang sia-sia (yang tidak boleh dikerjakan). Misalnya Manajer dengan satpam serta bandar narkoba.
Dari penjelasan diatas bisa dipahami bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dengan aktivitas/pekerjaan dalam kehidupannya. Selebihnya bisa dipahami bahwa pada umunya setiap pekerjaan memerlukan instrumen yang terkadang intrumen ini menjadi ciri tinggi rendahnya suatu pekerjaan. Sebagaimana isim dan fi'il tidak akan "bersenyawa" terus menerus yang tentunya membutuhkan haraf untuk menambah perkataan atau ungkapan lain, yang mana haraf ini terkadang memberi pengaruh pada makna yang terkandung dalam sebuah perkataan atau ungkapan.
Selebihnya, Isim yang memiliki 3 eksistensi diatas memiliki bentuk isim yang memiliki kategorisasi tersendiri sehingga akan berpengaruh pada kedudukannya. Isim memiliki kategori tertentu tergantung sisi mana kita memandang. seperthalnya isim dilihat dari sisi kuantitas, ada mufrod (satu), tasniah (dua) dan jamak (plural) samahalnya manusia kadang sendiri, berdua dan berkumpul lebih dari dua.
Berbicara masalah kedudukan, diantara ketiga pemebentuk kalam diatas, hanya isimlah yang memiliki kedudukan, tidak untuk fi'il dan tidak pula untuk haraf. kedua pembentuk ini bisa memiliki kedudukan ketika diiringi dengan kata lain, baik fi'il diiringi isim, fi'il dengan haraf, atau haraf dengan isim. Begitupun halnya manusia,, Manusia tanpa pekerjaan masih memiliki predikat, berbeda dengan pekerjaan tidak ada (berjalan) tanpa ada yang bekerja, begitupun dengan intrumentnya.
Maka tidak heran bila dalam kitab dasar ilmu nahwu, hanya isimlah yang memiliki kedudukan. sepertihalnya didunia ini, manusialah yang diberi kedudukan oleh Alloh SWT. sebagai khalifah dimuka bumi untuk mengelola dan mendayagunakan alam sekitarnya. Jadi, bila kita ingin hidup berarti kerjakanlah pekerjaan yang baik agar kita bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi, baik disisi Alloh SWT. maupun disisi sesama.
Akhirnya, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya sangat terkesan dengan adanya pensyarahan kitab ilmu nahwu yang mungkin bisa dikategorikan sebagai pandangan terhadap ilmu nahwu dari segi ilmu sosiologi. Sebagai penutup, semoga ilmu sang pelopor (Bapak KH.Dimyati) menjadi berkah bagi kita semua Amin ya rabbal alamin.
Moch. Farid Wajdi (Wazdi) As-Sanjari (Wawa)
Tasikmalaya, 27 Juli '12. 2:14
Melayang kuterpana dalam buaian sang piawai
Gundah gulana bertalu hasrat bersua
bersua sang piawai serta buah pena-nya
Salam hormat dan semoga keberkahan Menyertainya
Amin ya Rabbala'lamin......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar